Sabtu, 07 Februari 2015

II. Bayang-bayang Masa Lalu, Murni dan Tidak Murni

Seiring abad kedua puluh bergerak ke penghujung, timbul suatu kesadaran bersama hampir di semua tempat mengenai garis-garis di antara kebudayaan-kebudayaan, pembagian-pembagian dan perbedaan-perbedaan yang tidak hanya memungkinkan kita membedakan satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya, tetapi juga memungkinkan kita melihat sejauh mana kebudayaan-kebudayaan itu secara manusiawi menjadi struktur otoritas dan peran serta, yang baik di dalam apa yang mereka cakup, manfaatkan, dan absahkan, dan yang kurang baik di dalam apa yang mereka ingkari dan turunkan.

Saya yakin, dalam semua kebudayaan yang didefinisikan secara nasional ada suatu aspirasi untuk berdaulat, untuk berkuasa, untuk mendominasi. Dalam hal ini, kebudayaan Prancis dan Inggris, India dan Jepang, semuanya sama. Pada saat yang sama, sebaliknya, kita belum pernah sesadar sekarang ini, tentang betapa anehnya pengalaman-pengalaman sejarah dan budaya cangkokan itu, tentang bagaimana mereka mencakup banyak pengalaman dan bidang yang saling bertentangan, melanggar batas-batas nasional, menantang tindakan bak polisi dari dogma yang sederhana dan patriotisme yang bising. Bukannya bersifat uniter atau monolitik atau otonom, kebudayaan sesungguhnya mengandung unsur-unsur 'asing', alteritas, dan perbedaan-perbedaan yang lebih banyak dibanding yang secara sadar mereka singkirkan. Siapa di India atau Aljazair sekarang yang dapat dengan penuh kepercayaan diri memisahkan komponen Inggris atau Prancis di masa lalu dari aktualitas-aktualitas masa kini, dan siapa di Inggris atau Prancis yang dapat menarik suatu lingkaran yang tegas di seputar London-nya Inggris atau Paris-nya Prancis yang akan menyangkal pengaruh India dan Aljazair atas dua kota imperial ini?

Ini bukanlah pertanyaan akademik atau teoritis yang bernostalgia semata, karena seperti yang akan dipastikan dalam satu atau dua ekskursi singkat, mereka mempunyai konsekuensi sosial dan politik yang penting. Baik London maupun Paris mempunyai populasi imigran yang cukup besar dari bekas koloninya, di mana mereka sendiri masih menyimpan banyak sisa-sisa budaya Inggris dan Prancis dalam kehidupan sehari-hari mereka. Tetapi, hal itu jelas. Ingatlah, sebagai contoh yang lebih kompleks, isu-isu terkenal mengenai citra zaman kuno atau tradisi Yunani klasik sebagai faktor penentu jati diri bangsa. Telaah-telaah seperti karya Martin Bernal Black Athena dan karya Eric Hobsbowm dan Terence Ranger The Invention of Tradition telah menekankan pengaruh yang luar biasa dari kecemasan-kecemasan dan agenda masa kini atas citra yang murni (bahkan yang dipalsukan) yang kita bangun dari masa lalu yang istimewa dan bermanfaat secara turun-temurun, suatu masa lalu yang di dalamnya kita menyingkirkan unsur-unsur, sisa-sisa, dan cerita-cerita yang tidak kita inginkan. Jadi, menurut Bernal, sementara kebudayaan Yunani pada mulanya dikenal berakar pada kebudayaan Mesir, Semit, dan berbagai kebudayaan selatan dan timur lainnya, ia dibentuk kembali dengan kebudayaan 'Arya' sepanjang perjalanan abad kesembilan belas, sementara akar-akar Semit dan Afrikanya dipalsukan secara aktif atau disembunyikan dari pandangan. Karena para penulis Yunani sendiri secara terbuka mengakui masa lalu cangkokan budaya mereka, para ahli filologi Eropa mempunyai kebiasaan ideologis untuk mengabaikan bagian-bagian yang memalukan ini tanpa komentar, demi menjaga kemurnian Langit itu.[24] (Orang juga ingat bahwa baru pada abad kesembilan belas sajalah para ahli sejarah Eropa mengenai Perang Salib mulai tidak menyinggung-nyinggung tentang kanibalisme di kalangan para kesatria Frank, meskipun makan daging manusia dikemukakan tanpa rasa malu-malu dalam sejarah Perang Salib masa kini).

Tidak kurang dari citra Yunani, citra otoritas Eropa ditopang dan dibentuk pada abad kesembilan belas, di mana lagi hal ini dapat dilakukan kecuali dalam penciptaan ritual, upacara, dan tradisi? Inilah argumen yang dikemukakan oleh Hobsbowm, Ranger, dan para kontributor lain dari The Invention of Tradition. Ketika filamen-filamen dan organisasi-organisasi yang lebih tua dan mengikat masyarakat pramodern secara internal mulai ribut, dan ketika tekanan sosial untuk mengurusi banyak wilayah luar negeri dan penguasa di Eropa merasakan kebutuhan yang jelas untuk memproyeksikan kekuasaan mereka ke belakang, dan memberinya sejarah dan legitimasi yang hanya dapat diberikan oleh tradisi dan usia panjang. Maka pada 1876 Victoria dinyatakan sebagai Maharani India, Raja Mudanya, Lord Lytton, diutus ke sana dalam suatu kunjungan, disambut dan dielu-elukan dalam jambore-jambore dan durbar-durbar di seluruh negeri, juga dalam Perkumpulan Imperial besar di Delhi, seakan-akan pemerintahannya bukan semata-mata masalah kekuasaan dan dekrit unilateral, melainkan adat istiadat kuno.[25]

Konstruksi serupa juga pernah dibuat pada sisi sebaliknya, yaitu, melalui para 'penduduk asli' pemberontak mengenai masa lalu prakolonial mereka, sebagaimana dalam kasus Aljazair pada masa Perang Kemerdekaan (1954-1962) ketika dekolonisasi mendorong bangsa Aljazair dan kaum Muslim untuk menciptakan citra tentang diri mereka sebagaimana yang mereka bayangkan sebelum kedatangan Prancis. Strategi ini berhasil dalam apa yang dikatakan dan ditulis oleh para penyair dan pujangga nasional pada masa perjuangan kemerdekaan atau pembebasan di tempat-tempat lain di dunia kolonial. Saya ingin menggarisbawahi kekuatan penggerak dari citra-citra dan tradisi-tradisi yang dikemukakan, dan kualitas fiksional, atau setidak-tidaknya kualitas fantastik yang diberi warna-warna secara romantis. Ingatlah apa yang dilakukan Yeats bagi masa lalu Irlandia, dengan Cuchulain-cuchulain dan rumah-rumah besarnya, yang memberi perjuangan nasional sesuatu untuk dibangkitkan kembali dan dikagumi. Di negara-negara nasional pascakolonial, kecenderungan esensi-esensi semacam semangat Celtik, negritude, atau Islam, adalah sangat jelas: mereka banyak terkait bukan hanya dengan para manipulator pribumi, yang juga memperalat mereka untuk menutupi kesalahan, korupsi, dan kelaliman masa kini, tetapi juga dengan konteks imperial yang diperangi yang merupakan tempat asal-usul mereka dan tempat di mana mereka dirasa penting.

Meskipun sebagian besar koloni-koloni itu telah mencapai kemerdekaan, banyak sikap imperial yang mendasari penaklukan kolonial itu yang masih berlanjut. Pada 1910 pendukung kolonialisme Prancis, Jules Harmand, berkata:

Maka, adalah penting untuk menerima, sebagai suatu prinsip dan titik tolak, kenyataan bahwa suatu hierarki ras dan peradaban, dan bahwa kita termasuk ras dan peradaban yang unggul, sambil tetap menyadari bahwa, sementara keunggulan memberikan hak-hak, ia juga menuntut kewajiban-kewajiban sebagai balasannya. Legitimasi dasar penaklukan atas rakyat pribumi merupakan kepastian dari keunggulan kita, bukan hanya keunggulan mekanis, ekonomis, maupun militer, tetapi juga keunggulan moral kita. Martabat kita terletak pada kualitas itu, dan melandasi hak kita untuk memerintah golongan umat manusia lainnya. Kekuatan material itu tidak lain dari sarana untuk mencapai tujuan itu.[26]

Sebagai pendahuluan dari polemik masa kini menyangkut keunggulan peradaban Barat atas peradaban-beradaban lain, tingginya nilai perikemanusiaan murni Barat sebagaimana yang dipuji-pujikan oleh para filosof konservatif seperti Allan Bloom, inferioritas (dan ancaman) mendasar dari pihak non-Barat sebagaimana yang dinyatakan oleh para penyerang Jepang, Orientalis ideologis, dan para pengkritik kemunduran 'pribumi' di Afrika dan Asia, pernyataan Harmand itu mengandung ramalan yang mencengangkan.

Yang lebih penting ketimbang masa lalu itu sendiri, karenanya, adalah sikapnya terhadap sikap-sikap budaya di masa sekarang ini. Karena alasan-alasan yang sebagian tertanam dalam pengalaman imperial, pembagian lama antara penjajah dan yang dijajah telah muncul kembali dalam apa yang sering diacu sebagai hubungan Utara-Selatan, yang membutuhkan pembelaan diri, berbagai perjuangan retoris dan ideologis, dan kebencian membara yang sangat mungkin akan meletupkan peperangan yang menghancurkan---dalam beberapa kasus hal itu telah terjadi. Adakah cara-cara di mana kita dapat memahami kembali pengalaman imperial itu dalam pengertian lain selain pengertian penggolong-golongan, agar kita dapat mengubah pemahaman kita baik mengenai masa lalu maupun masa kini dan sikap kita terhadap masa depan?

BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar