Rabu, 04 Februari 2015

Pengantar

...

dalam apa yang dapat dikatakan sebagai realitas tak diragukan dalam masyarakat mereka. Saya kira apa yang kita pelajari dari aspek yang sampai kini diabaikan itu benar-benar dan nyata-nyata menambah pengertian dan pemahaman kita tentangnya.

Izinkan saya di sini mengemukakan sedikit tentang apa yang tersimpan dalam pikiran saya, dengan menggunakan dua novel besar dan terkenal. Karya Dickens Great Expectations (1861) pada dasarnya adalah novel tentang penipuan diri, tentang usaha-usaha Pip yang gagal menjadi seorang pria terhormat tanpa dibarengi kerja keras atau sumber pendapatan aristokrat yang dibutuhkan untuk menjalankan peran semacam itu. Ketika masih kecil dia membantu seorang narapidana, Abel Magwitch, yang, setelah dipindahkan ke Australia, membayar kembali utang budi kepada penolong mudanya itu dengan sejumlah besar uang; karena penasihat hukum yang terlibat tidak mengatakan apa-apa ketika dia membelanjakan uang itu, Pip membujuk dirinya sendiri bahwa seorang wanita terhormat yang telah berumur, Miss Havisham, telah menjadi pelindungnya. Magwitch selanjutnya muncul kembali secara ilegal di London, dan tidak dikehendaki oleh Pip sebab segala sesuatu tentang pria itu berbau busuk kejahatan dan persengketaan. Tetapi, pada akhirnya Pip berdamai dengan Magwitch dan dengan realitasnya: dia akhirnya mengakui Magwitch---yang diburu, ditahan, dan sakit parah---sebagai ayah pengganti baginya, bukan seseorang yang harus ditentang atau ditolak, meskipun Magwitch sesungguhnya tidak dapat diterima, karena berasal dari Australia, sebuah koloni hukuman yang dirancang untuk rehabilitasi, tetapi bukan repatriasi bagi para penjahat Inggris yang dipindahkan.

Sebagian besar, kalau bukan seluruhnya, pembacaan karya besar ini menempatkannya secara tepat di dalam sejarah metropolitan fiksi Inggris, sementara saya percaya bahwa ia termasuk dalam sejarah yang lebih inklusif dan lebih dinamis ketimbang yang dimungkinkan oleh penafsiran-penafsiran semacam itu. Menjadi tugas bagi dua buku lain setelah karya Dickens itu---karya Magisterial Robert Hughes The Fatal Shore dan karya spekulatif yang cemerlang dari Paul Carter The Road to Botany Bay---untuk mengungkapkan sejarah panjang spekulasi dan pengalaman tentang Australia, sebuah koloni 'putih' seperti Irlandia, di mana kita dapat menemukan Magwitch dan Dickens bukan sebagai acuan kebetulan dalam sejarah itu, melainkan sebagai partisipan di dalamnya, melalui novel tersebut dan melalui pengalaman yang jauh lebih tua dan lebih luas antara Inggris dan wilayah-wilayah di luar negerinya.

Australia ditetapkan sebagai koloni hukuman pada akhir abad kedelapan belas terutama agar Inggris dapat memindahkan kelebihan populasi penjahat yang tak tersembuhkan dan tak diinginkan ke suatu tempat, yang pada awalnya dipetakan oleh Kapten Cook, yang juga berfungsi sebagai koloni untuk menggantikan mereka yang gagal di Amerika. Pencarian keuntungan, pembangunan imperium, dan apa yang dinamakan Hughes apartheid sosial, bersama-sama melahirkan Australia modern, yang ketika Dickens pertama kali menaruh minat padanya pada 1840-an (dalam David Copperfield Wilkins Micauber dengan senang hati pindah ke sana) telah berkembang menjadi sesuatu yang menguntungkan dan semacam 'sistem bebas' di mana para pekerja dapat mencapai kemajuan sendiri jika diberi kesempatan. Namun, dalam diri Magwitch

Dickens membuat simpul dari beberapa untaian dalam persepsi Inggris mengenai para penjahat di Australia pada akhir perjalanan. Mereka bisa berhasil, tetapi mereka hampir tidak mungkin, dalam pengertian yang sebenarnya, untuk kembali. Mereka dapat membayar kerugian dari kejahatan mereka dalam pengertian teknis dan hukum, namun apa yang mereka derita di sana telah membungkus mereka dengan pakaian orang-luar selamanya. Namun, mereka dapat bebas---selama mereka tinggal di Australia.[1]

Penelitian Carter mengenai apa yang dinamakannya sejarah ruang Australia menawarkan pada kita versi lain dari pengalaman yang sama. Di sini para penjelajah, penjahat, ahli etnografi, lintah darat, dan serdadu memetakan benua yang relatif kosong masing-masing dalam suatu wacana yang mendesak, memecah, atau menyatukan yang lain-lainnya. Botany Bay karenanya pertama-tama adalah suatu wacana Pencerahan mengenai perjalanan dan penemuan, selanjutnya sekelompok penulis kisah perjalanan (termasuk Cook) yang kata-kata, peta-peta, dan niatannya mengumpulkan wilayah-wilayah asing yang lambat laun diubah menjadi 'rumah'. Perbatasan antara organisasi ruang Benthamite (yang melahirkan kota Melbourne) dan kekacauan yang mencolok dari semak-semak Australia ditunjukkan oleh Carter sebagai yang telah menjadi suatu perubahan ruang sosial yang optimistis, yang menciptakan sebuah Kayangan bagi para pria terhormat, suatu Surga bagi para pekerja pada 1840-an.[2] Apa yang diimpikan Dickens untuk Pip, sebagai 'pria terhormat London'-nya Magwitch, kira-kira sepadan dengan apa yang diimpikan oleh kebajikan Inggris untuk Australia, satu ruang sosial memberi kuasa pada ruang sosial yang lain.

Tetapi, Great Expectations memang tidak ditulis dengan semacam keprihatinan atas penjelasan-penjelasan orang Australia asli yang dimiliki Hughes atau Carter, pun ia tidak menganggap atau meramalkan adanya suatu tradisi penulisan Australia, yang sesungguhnya muncul belakangan dan mencakup karya-karya dari David Malouf, Peter Carey, dan Patrick White. Larangan yang dikenakan kepada Magwitch untuk kembali tidak hanya berlatar hukum namun juga imperial: rakyat dapat dibawa ke tempat-tempat seperti Australia, tetapi mereka tidak diperbolehkan 'kembali' ke ruang metropolitan, yang, sebagaimana disaksikan dalam seluruh karya Dickens, dipetakan secara teliti, disuarakan untuk, dan dihuni oleh suatu hierarki tokoh-tokoh Metropolitan. Maka di satu pihak, para penafsir seperti Hughes dan Carter mengembangkan kehadiran Australia yang relatif menipis dalam karya tulis Inggris abad kesembilan belas, dengan mengungkapkan kepenuhan dan integritas yang diperoleh dari sejarah Australia yang merdeka dari Inggris pada abad kedua puluh; namun, di pihak lain, pembacaan yang cermat atas Great Expectations pasti akan mencatat bahwa setelah pelanggaran Magwitch dikenai hukuman, katakanlah demikian, setelah dengan penuh penyesalan Pip mengakui utangnya pada penjahat yang sudah tua dan pendendam itu, Pip sendiri ambruk dan bangkit lagi dengan dua cara yang jelas positif. Seorang Pip baru muncul, dengan beban yang lebih ringan dibandingkan Pip lama yang menyandang rantai masa lalu---dia diperlihatkan sepintas lalu dalam bentuk seorang anak yang juga bernama Pip; dan Pip lama menghadapi karier baru dengan kawan masa kecilnya Herbert Pocket, kali ini bukan sebagai seorang pria yang malas, melainkan sebagai pedagang yang suka bekerja keras di Timur, di mana koloni-koloni Inggris lainnya menawarkan semacam normalitas yang tidak pernah bisa diberikan oleh Australia.

Dengan demikian, bahkan ketika Dickens telah menyelesaikan kesulitannya dengan Australia, struktur sikap dan acuan lainnya muncul dengan memperlihatkan hubungan imperial Inggris melalui perdagangan dan perjalanan dengan dunia Timur. Dalam karier barunya sebagai seorang pengusaha kolonial, Pip bukanlah tokoh yang istimewa, sebab hampir semua pengusaha, keluarga yang suka melawan, dan orang-orang luar yang menakutkan rekaan Dickens, mempunyai hubungan yang cukup 'normal' dan aman dengan imperium. Tetapi, baru pada tahun-tahun belakangan sajalah hubungan-hubungan itu menunjukkan makna penafsirannya yang penting. Suatu generasi sarjana dan kritikus baru---anak-anak dari dekolonisasi dalam beberapa contoh---para ahli waris (seperti kelompok minoritas seksual, keagamaan, dan rasial) dari kemajuan dalam kebebasan manusia di tanah air---telah menyaksikan dalam teks-teks Barat yang begitu hebat suatu kepentingan yang menonjol dalam apa yang dinamakan dunia yang lebih kecil, yang dihuni oleh orang kulit berwarna yang lebih malang, yang digambarkan terbuka untuk campur tangan begitu banyak Robinson Crusoe.

Menjelang akhir abad kesembilan belas imperium bukan lagi suatu kehadiran bayangan semata, atau diwujudkan hanya dalam penampilan tidak menarik dari seorang penjahat buronan melainkan, menjadi pusat perhatian dalam karya-karya para pengarang seperti Conrad, Kipling, Gide, dan Loti. Karya Conrad Nostromo (1904)---contoh saya yang kedua---mengambil tempat di sebuah republik Afrika Tengah yang merdeka (tidak seperti latar tempat kolonial Afrika dan Asia Timur dari fiksi-fiksinya sebelumnya), dan pada saat yang sama dikuasai oleh kepentingan-kepentingan luar karena tambang peraknya yang melimpah. Bagi seorang Amerika kontemporer, aspek yang paling mendesak dari karya itu adalah ramalan Conrad: dia meramalkan keruntuhan yang tidak dapat dihentikan dan 'pemerintahan yang salah' dari republik-republik Amerika Latin (memerintah mereka, katanya, dengan mengutip Bolivar, adalah seperti meluku laut), dan dia menonjolkan cara khas Amerika Utara untuk mempengaruhi keadaan dengan cara yang tegas namun sangat terang-terangan. Holroyd, pemodan San Fransisco yang menyokong Charles Gould, orang Inggris pemilik pertambangan San Tome, memperingatkan 'anak asuh'-nya bahwa 'kita tidak akan tergelincir pada kesulitan besar' sebagai penanam modal. Sekalipun demikian,

Kita dapat duduk dan mengamati. Tentu saja, suatu hari nanti kita akan melangkah masuk. Kita berkewajiban. Tetapi, tidak perlu terburu-buru. Waktu sendiri yang harus melayani negeri terbesar di seluruh jagad Tuhan ini. Kita akan menjamin segala sesuatu---industri, perdagangan, hukum, jurnalisme, kesenian, politik, dan agama, dari Cape Horn sampai Surith's Sound, dan di luar itu juga, jika sesuatu yang pantas dikuasai muncul di Kutub Utara. Dan selanjutnya kita akan punya waktu luang untuk merebut pulau-pulau dan benua-benua terpencil di bumi. Kita akan menjalankan urusan dunia entah dunia itu menyukainya atau tidak. Dunia tidak akan dapat menahannya---dan tidak pula kita, kukira.[3]

Kebanyakan retorika 'Tata Dunia Baru' yang diumumkan secara resmi oleh pemerintah Amerika sejak akhir Perang Dingin---dengan ucapan selamat untuk diri sendiri yang berbau harum, gaya kemenangan yang tak ditutup-tutupi, dan pernyataan tanggung jawab yang sungguh-sungguh---mungkin telah dituliskan oleh tokoh Conrad, Holroyd: 'kita adalah nomo satu, kita diciptakan untuk memimpin, kita mendukung kebebasan dan keteraturan, dan seterusnya.' Tidak ada orang Amerika yang kebal dari struktur perasaan ini, namun peringatan tersamar yang terdapat dalam potret-potret Conrad atas Holroyd dan Gould jarang direnungkan sebab kekuatan retorika itu terlalu mudah melahirkan ilusi kebajikan jika dikembangkan dalam suatu latar imperial. Toh itu merupakan suatu retorika yang cirinya yang paling memberatkan adalah bahwa ia telah digunakan sebelumnya, tidak hanya sekali (oleh Spanyol dan Portugal) melainkan dengan frekuensi ulangan yang memekakkan telinga di masa modern ini oleh bangsa Inggris, Prancis, Belgia, Jepang, Rusia, dan kini Amerika.

Sekalipun demikian, akan kurang lengkap jika membaca karya besar Conrad semata-mata sebagai ramalan awal tentang apa yang kita lihat tengah terjadi di Amerika Latin abad kedua puluh, dengan rentetan United Fruit Companies, kolonel-kolonel, kekuatan-kekuatan pembebas, dan tentara-tentara bayaran yang dibiayai Amerika. Conrad adalah pelopor pandangan-pandangan Barat terhadap Dunia Ketiga yang kita temukan dalam karya-karya para novelis yang berbeda-beda seperti Graham Greene, V.S. Naipaul, dan Robert Stone, para ahli teori imperialisme seperti Hannah Arendt, dan para penulis kisah perjalanan, pembuat film, dan ahli polemik yang keahliannya adalah menyerahkan dunia non-Eropa entah untuk analisis maupun penilaian atau untuk memuaskan selera eksotis para pembaca Eropa dan Amerika Utara. Sebab jika benar Conrad secara ironis memandang imperialisme para pemilik pertambangan perak San Tome yang berkebangsaan Inggris dan Amerika dihukum oleh ambisi-ambisinya sendiri yang megah dan mustahil, maka benar jugalah bahwa dia menulis sebaai seseorang yang pandangan Barat-nya atas dunia non-Barat telah demikian berurat akar sehingga membutakannya dari sejarah, budaya, dan aspirasi lainnya. Yang dapat dilihat Conrad hanyalah dunia yang sepenuhnya telah dikuasai oleh bangsa Barat Atlantis, di mana setiap penentangan terhadap Barat hanya menegaskan kekuakatan Barat yang jahat. Yang tidak dilihat Conrad adalah alternatif untuk pengulangan kata yang kejam ini. Dia tidak dapat memahami bahwa India, Afrika, dan Amerika Selatan juga mempunyai kehidupan dan kebudayaan dengan integritas yang tidak sepenuhnya dikontrol oleh kaum imperialis dan pembaru gringo dari dunia ini, atau membiarkan dirinya meyakini bahwa gerakan-gerakan kemerdekaan antiimperialis tidak korup sama sekali dan dibayar oleh para dalang mereka di London atau Washington.

Pembatasan-pembatasan dalam visi ini merupakan bagian dari Nostromo dan juga tokoh-tokoh serta plotnya. Novel Conrad menggambarkan kepongahan paternalistis yang sama dari imperialisme yang diejeknya dalam tokoh-tokoh seperti Gould dan Holroyd. Conrad tampaknya berkata, 'kita orang Barat akan menentukan siapa penduduk asli yang baik atau yang jahat, sebab semua penduduk asli mempunyai eksistensi yang memadai berdasarkan pengakuan kita. Kita ciptakan mereka, kita ajarkan pada mereka untuk berbicara dan berpikir, dan ketika mereka memberontak, mereka hanya menegaskan pandangan kita terhadap mereka sebagai anak-anak yang bodoh, yang dikorbankan oleh sebagian dari para penguasa Barat mereka'. Inilah sesungguhnya yang dirasakan oleh orang-orang Amerika tentang tetangga Selatan mereka: bahwa kemerdekaan akan diharapkan untuk mereka terima sepanjang itu adalah kemerdekaan yang kita setujui. Yang lain tidak dapat diterima dan, lebih buruk lagi, tak terpikirkan.

Oleh karena itu bukan merupakan paradoks bahwa Conrad adalah imperialis dan antiimperialis sekalius, progresif jika harus menerjemahkan secara berani dan pesimis kebobrokan dari dominasi luar negeri, sangat reaksioner jika harus mengakui bahwa Afrika atau Amerika Selatan dapat memiliki sejarah atau kebudayaan yang mandiri, yang dikacaukan secara kejam oleh kaum imperialis tetapi dengan itu pula mereka akhirnya dikalahkan. Namun, kecuali jika kita tidak menganggap Conrad sebagai makhluk dari zamannya sendiri, ada baiknya kita catat bahwa sikap akhir-akhir ini di Washington dan dikalangan sebagian besar penentu kebijaksanaan dan kaum intelektual Barat hanya menunjukkan kemajuan kecil dari pandangan-pandangannya. Apa yang dilihat Conrad sebagai kesia-siaan yang tersimpan dalam filantropi imperialis---yang niatnya mencakup gagasan-gagasan seperti 'membuat dunia aman untuk demokrasi'---pemerintah Amerika Serikat masih belum mampu memahami, sementara ia berusa menanamkan keinginan-keinginannya ke seluruh dunia, terutama di Timu Tengah. Setidak-tidaknya Conrad mempunyai keberanian untuk melihat bahwa tidak ada rencana seperti itu yang pernah berhasil---sebab mereka merangkap perencananya ke dalam ilusi tentang kemahakuasaan dan pemuasan diri yang menyesatkan (sebagaimana di Vietnam), dan karena dengan watak itulah mereka memalsukan bukti-bukti.

Semua ini patut diingat jika ingin membaca Nostromo dengan menekankan perhatian pada kekuatan masif dan keterbatasan-keterbatasan inherennya, Negara Sulaco yang baru merdeka yang muncul pada akhir novel itu hanyalah suatu versi yang tidak toleran dan dikontrol lebih ketat oleh negara yang lebih besar yang berhasil dilepaskannya dan kini tiba waktunya untuk digantikan dalam kekayaan dan kedudukannya. Conrad membiarkan pembaca mengetahui bahwa imperialisme adalah suatu sistem. Kehidupan di dalam suatu alam pengalaman yang lebih rendah telah ditanamkan oleh khayalan dan kebodohan dari alam yang lebih dominan. Namun, kebalikannya adalah benar juga, karena pengalaman dalam masyarakat yang dominan akhirnya tergantung tanpa kritik kepada penduduk asli dan wilayah mereka dianggap membutuhkan la mission civilisatrice.

BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar