Minggu, 08 Februari 2015

III. Dua Pandangan dalam "Heart of Darkness"

Dominasi dan ketidaksederajatan dalam kekuatan dan kekakayaan merupakan fakta abadi masyarakat manusia. Namun, dalam latar global masa kini fakta itu dapat juga ditafsirkan sebagai sesuatu yang ada kaitannya dengan imperialisme, sejarahnya, bentuk-bentuknya yang baru. Bangsa-bangsa Asia, Amerika Latin, dan Afrika kontemporer secara politis merdeka tetapi dalam banyak hal sama terkuasainya dan tergantungnya dengan mereka dulu ketika diperintah secara langsung oleh kekuatan-kekuatan Eropa. Di satu pihak, inilah konsekuensi dari luka-luka yang timbul sendiri; kritikus seperti V.S. Naipaul sering berkata: mereka (setiap orang tahu bahwa 'mereka' berarti bangsa kulit berwarna, negro) patut dipersalahkan karena 'mereka' adalah 'mereka', dan tidak ada gunanya ribut-ribut tentang warisan imperialisme. Di lain pihak, menyalahkan bangsa Eropa secara menyeluruh atas kemalangan masa kini bukanlah alternatif yang berguna. Yang perlu kita lakukan adalah memandang masalah-masalah ini sebagai suatu jaringan sejarah yang saling bergantung sehingga tidak tepat dan tidak masuk akal kalau kita menindasnya, dan akan bermanfaat dan menarik kalau kita dapat memahaminya.

Masalahnya di sini tidak rumit. Jika ketika sedang duduk di Oxford, Paris, atau New York Anda berkata kepada orang-orang Arab atau Afrika bahwa mereka termasuk dalam kebudayaan yang pada dasarnya sakit atau tak bisa diperbaharui lagi, Anda tidak akan bisa meyakinkan mereka. Bahkan, jika Anda membujuk mereka, mereka tidak akan mengakui keunggulan esensial Anda atau hak Anda untuk menguasai mereka meskipun Anda kaya dan berkuasa. Sejarah penolakan ini tampak jelas di seluruh koloni di mana para tuan kulit putih itu pernah menjadi pihak tak tertandingi namun akhirnya terusir keluar. Sebaliknya, rakyat pribumi yang menang itu segera menyadari bahwa mereka membutuhkan Barat dan bahwa gagasan kemerdekaan penuh adalah khayalan nasionalis yang dirancang terutama untuk apa yang disebut Fanon 'borjuasi nasionalis', yang pada gilirannya sering menjalankan pemerintahan negeri-negeri baru itu dengan kelaliman eksploitatif tanpa perasaan, yang mengingatkan pada tuan-tuan kulit putih yang telah terusir itu.

Dan demikianlah menjelang akhir abad kedua puluh, siklus imperial abad yang lalu itu dalam beberapa cara mereplikasi dirinya sendiri, meskipun kini sesungguhnya tidak ada ruang besar yang benar-benar kosong, tidak ada perbatasan negeri yang meluas, tidak ada pemukiman-pemukiman baru yang menarik untuk didirikan. Kita hidup di dalam satu lingkungan global dengan sejumlah besar tekanan ekologi, ekonomi, sosial, dan politik yang menyobek bahannya yang hanya dirasakan samar-samar, tidak ditafsirkan secara mendasar dan tidak dipahami. Setiap orang bahkan dengan kesadaran yang kabur mengenai keseluruhan soal ini diperingatkan tentang bagaimana kepentingan-kepentingan yang begitu sempit dan egois serta kejam---patriotisme, chauvinisme, kebencian-kebencian etnis, keagamaan, dan rasial---benar-benar dapat menimbulkan kehancuran massa. Dunia sudah tidak dapat menanggung hal ini berulang kali lagi.

Kita hendaknya tidak berpura-pura bahwa model-model tata dunia yang harmonis telah ada di tangan, dan juga akan sama tidak jujurnya beranggapan bahwa gagasan-gagasan mengenai perdamaian dan komunitas mempunyai banyak kesempatan untuk diwujudkan jika kekuatan digerakkan oleh persepsi-persepsi agresif dari 'kepentingan-kepentingan vital nasional' atau kedaulatan tanpa batas. Perang Amerika Serikat dengan Irak dan serangan Irak atas Kuwait dalam kaitannya dengan minyak bumi adalah contoh yang sangat gamblang. Yang menakjubkan dari hal itu adalah bahwa pengembangan pemikiran yang relatif picik itu masih berjalan tanpa terbendung, diterima tanpa kritik, dan berulang kali diajarkan dalam pendidikan dari generasi ke generasi. Kita semua diajari untuk memuliakan bangsa kita dan mengagumi tradisi kita: kita diajari untuk memenuhi kepentingan bangsa dengan gigih dan tanpa mengindahkan kepentingan masyarakat lain. Suatu tribalisme baru dan, menurut pandangan saya, mengerikan, adalah memutuskan ikatan masyarakat, memisahkan orang-orang, meningkatkan keserakahan, konflik berdarah, pemaksaan kekhasan kelompok atas etnis minoritas. Waktu yang hanya sedikit diisi bukan untuk 'mempelajari budaya-budaya lain'---frase ini mengandung ketidakjelasan yang tolol---melainkan untuk menelaah peta interaksi, lalu lintas aktual dan sering bersifat produktif yang terjadi dari hari ke hari, dan bahkan dengan basis menit demi menit di antara negara-negara, masyarakat-masyarakat, kelompok-kelompok, identitas-identitas.

Tak seorang pun dapat menyimpan seluruh peta ini dalam benaknya, yang merupakan penyebab mengapa geografi imperium dan pengalaman imperial berisi-banyak yang menciptakan tekstur fundamentalnya itu harus dipertimbangankan terutama dalam pengertian dari beberapa konfigurasi penting. Yang pokok, kalau kita menengok pada abad kesembilan belas, kita melihat bahwa dorongan ke arah imperium itu sesungguhnya membawa sebagian besar bumi ini ke dalam dominasi segelintir kekuatan. Untuk memahami sebagian dari apa yang dimaksudkan hal ini, saya menyarankan untuk melihat seperangkat dokumen budaya yang spesifik di mana interaksi antara Eropa atau Amerika di satu pihak dan dunia terjajah di lain pihak dihidupkan, diinformasikan, dibuat eksplisit sebagai suatu pengalaman dari dua sisi pertemuan itu. Namun, sebelum saya melakukan ini, secara historis dan sistematis, adalah suatu persiapan yang bermanfaat jika kita mau melihat apa yang masih tersisa dari imperialisme dalam diskusi budaya akhir-akhir ini. Inilah sisa-sisa suatu sejarah yang padat dan menarik yang secara paradoks bersifat global dan lokal sekaligus, dan juga merupakan suatu tanda bagaimana masa lalu imperial bertahan hidup, dengan mengajukan argumen dan argumen tandingan dengan intensitas yang mengejutkan. Karena mereka bersifat kontemporer dan mudah didapat, jejak-jejak masa lalu ini di masa kini menunjuk pada suatu telaah tentang sejarah-sejarah---bentuk jamak itu digunakan setelah dipertimbangkan masak-masak---yang diciptakan oleh imperium, bukan hanya kisah-kisah tentang pria dan wanita kulit putih tetapi juga cerita-cerita tentang orang-orang nonkulit putih yang tanah-tanah dan sosok mereka sendiri sedang diperselisihkan, bahkan ketika tuntutan-tuntutan mereka ditolak atau diabaikan.

Satu perdebatan kontemporer yang penting mengenai sisa-sisa imperialisme---masalah tentang bagaimana 'para penduduk asli' dilukiskan dalam media Barat---memberi gambaran mengenai bertahannya kesalingtergantungan dan ketumpangtindahan semacam itu, bukan hanya dalam isi perdebatan melainkan dalam bentuknya, bukan hanya dalam apa yang dikatakan melainkan juga bagaimana hal itu dikatakan, oleh siapa, di mana, dan kepada siapa. Ini patut diperhatikan, meskipun menuntut suatu disiplin diri yang tidak mudah didapat; begitu berkembang, menggoda, dan siapnya strategi-strategi konfrontasi itu. Pada 1984, persis sebelum The Satanic Verses muncul, Salman Rushdie mendiagnosa mengenai membanjirnya film-film dan artikel-artikel mengenai Raj Inggris, termasuk serial televisi The Jewel on the Crown dan film David Lane A Passage to India. Rushdie mencatat bahwa nostalgia yang dipaksakan oleh kenang-kenangan yang menyentuh hati pemerintahan Inggris di India bertepatan dengan Perang Falklands, dan bahwa 'kebangkitan revisionisme Raj, yang dicontohkan mengenai sukses besar karya-karya fiksi ini, merupakan imbangan artistik bagi kebangkitan ideologi-ideologi konservatif Inggris modern'. Para pengulas menanggapi apa yang mereka anggap sebagai ratapan dan rengekan Rushdie di muka umum ini dan tampaknya tidak mengacuhkan maksud utamanya. Rushdie tengah berusaha membuat argumen yang lebih luas, yang agaknya telah menarik perhatian para cendekiawan yang bagi mereka deskripsi terkenal George Orwell mengenai tempat cendekiawan dalam masyarakat tidak lagi dapat diterapkan; realitas modern dalam pengertian Rushdie sesungguhnya adalah 'tak terhindarkan, dunia ini tidak menyediakan sudut-sudut sunyi [di mana] tidak dapat ditemukan jalan mudah untuk melepaskan diri dari sejarah, dari kebisingan, dari pertikaian yang dahsyat dan ramai'.[27] Tetapi, maksud utama Rushdie bukanlah masalah yang dianggap berharga untuk dibicarakan dan diperdebatkan. Sebagai gantinya, isu pokoknya adalah apakah segala sesuatu di Dunia Ketiga dalam kenyataannya tidak merosot setelah koloni-koloni telah dimerdekakan, dan apakah tidak lebih baik mendengarkan secara menyeluruh para cendekiawan Dunia Ketiga yang langka---untungnya, perlu saya tambahkan, amat sangat langka---yang secara jantan menerima hampir semua kebiadaban, kekejaman, dan kemerosotan yang ada sekarang ini sebagai yang berasal dari sejarah pribumi mereka sendiri, yaitu sejarah yang sangat buruk sebelum kolonialisme dan kembali pada keadaan itu setelah kolonialisme. Karena itu, menurut argumen ini, V.S. Naipaul yang lebih jujur namun tampak kejam adalah lebih baik ketimbang Rushdie yang bergaya menggelikan.

Orang dapat menarik kesimpulan dari emosi-emosi yang ditimbulkan oleh kasus Rushdie sendiri, dulu maupun kini, bahwa banyak orang di dunia Barat akhirnya merasa bahwa tidak ada yang perlu ditambah-tambah lagi. Setelah Vietnam dan Iran---dan perhatikan di sini bahwa label-label ini biasanya digunakan secara merata untuk membangkitkan trauma-trauma dalam negeri Amerika (huru-hara pelajar pada 1960-an, kemarahan publik menyangkut perang saudara pada 1970-an) serta konflik internasional dan 'pelarian' Vietnam dan Iran pada nasionalisme radikal---untuk Vietnam dan Iran, ketentuan-ketentuan harus dipertahankan. Demokrasi Barat telah menerima pukulan, dan bahkan jika terjadi kerusakan fisik di luar negeri, ada suatu perasaan, sebagaimana pernah dikemukakan dengan cara yang agak aneh oleh Jimmy Carter, 'saling menghancurkan'. Perasaan ini pada gilirannya menuntun bangsa Barat untuk memikirkan kembali seluruh proses dekolonisasi. Tidak benarkah, menurut evaluasi baru mereka, bahwa 'kita' telah memberi 'mereka' kemajuan dan modernisasi? Bukankah kita sudah memberikan mereka keteraturan dan semacam stabilitas yang belum pernah dapat mereka usahakan untuk diri mereka sendiri? Bukankah merupakan pemberian kepercayaan yang salah alamat jika kita mempercayai bahwa mereka akan mampu menerima kemerdekaan, sebab kemerdekaan itu justru memunculkan banyak Bokassa dan sederet Idi Amin, yang korelasi intelektualnya adalah orang-orang seperti Rushdie? Bukankah seharusnya kita terus menguasai koloni-koloni itu, tetap mengawasi rakyat atau ras yang lebih rendah itu, dan tetap berpegang pada tanggung jawab peradaban kita?

Saya menyadari bahwa apa yang saya kemukakan bukan sepenuhnya hal yang sebenarnya, melainkan barangkali suatu karikatur. Sekalipun demikian, hal itu mengandung keserupaan yang tak mengenakkan dengan apa yang dikatakan oleh banyak orang yang membayangkan diri mereka berbicara demi dunia Barat. Tampaknya muncul sedikit keraguan bahwa dunia 'Barat' yang monolitis memang benar-benar ada, seperti juga seluruh dunia bekas jajahan yang digambarkan dalam suatu generalisasi ke generalisasi yang lain. Lompatan menuju esensi dan generalisasi disertai imbauan kepada sejarah khayalan tentang sumbangan-sumbangan serta sedekah-sedekah Barat, diikuti oleh serangkaian gigitan tak kenal terima kasih yang patut dicela terhadap tangan 'Barat' yang sangat pemurah itu. 'Mengapa mereka tidak menghargai kita, setelah apa yang kita lakukan pada mereka?'[28]

Betapa mudahnya segala sesuatu dipadatkan menjadi satu rumusan sederhana berupa kemurahan hati yang tak dihargai! Ditolak dan dilupakanlah bangsa-bangsa jajahan yang telah dihancurkan, yang selama berabad-abad menghadapi keadilan sumir, tekanan ekonomi yang tak habis-habisnya, penyimpangan menyangkut kehidupan sosial dan intim mereka, dan ketaklukan total yang merupakan fungsi dari keunggulan Eropa yang tak berubah. Mengingat tentang berjuta-juta orang Afrika yang dipasok ke pasar budak, berarti mengakui kerugian yang tak terbayangkan untuk mempertahankan keunggulan itu. Namun, yang paling sering terjadi adalah dihilangkannya jejak-jejak yang tak terbatas jumlahnya dalam sejarah yang kejam dan sangat rinci tentang campur tangan kolonial---menit demi menit, jam demi jam---dalam kehidupan individu-individu maupun kolektif, pada dua sisi pembagi kolonial itu.

BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar